Kabarina – Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat terus dikembangkan di Kota Jambi. Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Pemerintah Provinsi Jambi dan sejumlah pemangku kepentingan mencanangkan pengembangan Kampung Pangan Terpadu di Kelurahan Buluran Kenali, Kota Jambi, Rabu (7/10/2026).

Pencanangan tersebut ditandai dengan pengembangan agrowisata tanaman kacang koro, sekaligus penyerahan bantuan berupa 50 kilogram benih kacang koro, 30.000 ekor benih ikan nila, serta 360 bibit pohon.

Program ini dirancang tidak sekadar menjadi kawasan produksi pangan, tetapi juga sebagai ruang edukasi, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Berbagai potensi lokal dipadukan dalam satu kawasan untuk menciptakan ekosistem pangan yang produktif dan berkelanjutan.

Sekretaris Utama Badan Karantina Indonesia, Shahandra Hanitiyo, mengatakan Kampung Pangan Terpadu merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dengan mengoptimalkan potensi daerah dan melibatkan masyarakat secara langsung.

“Hari ini kita tidak hanya mencanangkan sebuah kawasan, tetapi juga mencanangkan sebuah harapan untuk memperkuat ketahanan pangan, mengembangkan potensi daerah, dan meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Shahandra.

Menurutnya, konsep Kampung Pangan Terpadu mengintegrasikan berbagai unsur dalam satu kawasan, mulai dari tanaman, perikanan, peternakan, lingkungan hingga keterlibatan masyarakat.

Dengan konsep tersebut, kawasan Buluran Kenali diharapkan mampu berkembang menjadi kawasan produktif sekaligus menjadi tempat masyarakat dan generasi muda belajar mengenai budidaya, produksi pangan, serta pemanfaatan potensi lokal.

“Kami berharap kawasan ini dapat menjadi ruang produksi sekaligus edukasi dan inovasi pangan bagi masyarakat dan generasi muda,” katanya.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian dalam pengembangan kawasan tersebut adalah kacang koro. Tanaman tersebut didorong sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan komoditas pangan lokal yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara ekonomi.

Selain benih kacang koro, masyarakat juga mendapatkan dukungan benih ikan nila dan bibit tanaman. Benih ikan nila diperoleh melalui kerja sama dengan Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam.

Sementara itu, sebanyak 360 bibit pohon mendapat dukungan dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Batanghari. Seluruh bantuan tersebut telah melalui pemeriksaan dan pengujian laboratorium karantina.

Hasil pemeriksaan memastikan benih dan bibit yang disalurkan dinyatakan bebas dari hama dan penyakit ikan maupun tumbuhan sehingga aman untuk dikembangkan di kawasan Kampung Pangan Terpadu.

Dalam pengembangan kawasan ini, Barantin menggandeng Pemerintah Provinsi Jambi, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), PAPTAKI, kelompok tani, serta sejumlah pihak lainnya.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu menjaga kesinambungan program sekaligus memastikan pengembangan kawasan tidak berhenti pada kegiatan pencanangan, tetapi terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Gubernur Jambi Al Haris turut mengapresiasi kolaborasi yang dilakukan dalam pengembangan Kampung Pangan Terpadu tersebut. Menurutnya, sinergi berbagai pihak menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan potensi lokal sekaligus mendorong manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dukungan juga datang dari HKTI Jambi dan PAPTAKI, khususnya dalam mendorong pengembangan kacang koro sebagai salah satu alternatif komoditas pangan lokal yang dapat dikembangkan di masyarakat.

Pencanangan Kampung Pangan Terpadu kemudian ditutup dengan penanaman bersama. Kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Pengembangan kawasan di Buluran Kenali tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Hari Karantina Indonesia ke-149 dan HUT ke-3 Badan Karantina Indonesia.

Melalui program ini, Barantin mendorong agar fungsi perlindungan sumber daya hayati dapat berjalan beriringan dengan pengembangan potensi ekonomi daerah.

Kampung Pangan Terpadu diharapkan ke depan tidak hanya menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga tumbuh sebagai ruang pembelajaran bagi masyarakat dan generasi muda mengenai produksi pangan, budidaya, lingkungan, serta pemanfaatan komoditas lokal secara berkelanjutan.

Dengan kolaborasi pemerintah, kelompok tani, dunia usaha, dan masyarakat, kawasan Buluran Kenali diharapkan dapat menjadi salah satu contoh pengembangan pangan terpadu berbasis potensi lokal di Kota Jambi. (*)