Kabarina – Gubernur Jambi Al Haris mengungkapkan kondisi kabut asap yang menyelimuti Provinsi Jambi dipengaruhi pergerakan arah angin yang membawa asap dari sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dalam melakukan penanganan di lapangan.
Informasi itu disampaikan Al Haris saat memantau langsung perkembangan titik panas dan pergerakan arah angin melalui layar monitor aplikasi Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) di Posko Udara Satgas Karhutla Provinsi Jambi, Jumat (9/10/2026).
Dari hasil pemantauan tersebut, sejumlah titik api terpantau berada di beberapa wilayah, di antaranya Kabupaten Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Tebo. Namun, persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan keberadaan titik api, melainkan juga pergerakan angin yang membawa kabut asap hingga menyelimuti wilayah Jambi.
“Hal yang tidak bisa dimungkiri adalah arah angin yang semuanya terkunci dan menuju ke Jambi,” tegas Al Haris saat menjelaskan kondisi terkini di hadapan layar monitor, didampingi Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah.
Menurut Al Haris, berbagai upaya penanggulangan karhutla terus dilakukan oleh tim gabungan di lapangan. Pemadaman melalui jalur darat tetap menjadi salah satu langkah utama, termasuk penyiraman pada lokasi kebakaran serta pembuatan sekat kanal untuk membantu mengendalikan api, terutama di kawasan lahan gambut.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa penanganan titik api memiliki tantangan berbeda dibandingkan upaya mengatasi kabut asap yang telah menyebar dan terbawa pergerakan angin.
“Semua tim bekerja. Kalau ada api yang membakar, Insyaallah tim berusaha untuk memadamkannya. Tapi kalau sudah berupa kabut asap, tim tidak bisa apa-apa, kecuali Allah yang bisa menghentikannya. Kita hanya bisa memohon kepada Allah agar arah angin tidak ke Jambi atau agar hujan segera turun,” ungkapnya.
Al Haris menegaskan, pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait terus berupaya melakukan penanganan sesuai kondisi di lapangan. Namun, faktor cuaca dan arah angin menjadi tantangan karena dapat memengaruhi penyebaran asap sekaligus membatasi pelaksanaan sejumlah operasi penanggulangan karhutla.
Kendala lainnya muncul dalam pelaksanaan pemadaman melalui jalur udara atau water bombing. Kabut asap yang menyebabkan terbatasnya jarak pandang membuat operasi tersebut belum dapat dilakukan secara optimal.
“Kendala kita yang pertama, kita tidak bisa melakukan langkah-langkah water bombing karena sampai hari ini jarak pandang kita masih di angka 1.000 meter. Padahal, standar penerbangan itu harus di atas 1.800 meter,” jelas Al Haris.
Keterbatasan jarak pandang tersebut menjadi pertimbangan penting bagi pelaksanaan operasi udara. Keselamatan penerbangan tetap harus diperhatikan agar upaya pemadaman dapat dilakukan ketika kondisi memungkinkan.
Selain itu, pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga bergantung pada kondisi atmosfer, termasuk ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan operasional. Tim terkait disebut telah bersiap untuk melaksanakan operasi tersebut apabila kondisi cuaca mendukung.
Al Haris menyampaikan, jika kondisi jarak pandang dan awan memungkinkan pada malam hari sekitar pukul 19.00, pelaksanaan TMC akan segera dilakukan.
Pemerintah Provinsi Jambi berharap berbagai upaya yang dilakukan, mulai dari pemadaman darat, pemantauan titik api, hingga operasi udara dan modifikasi cuaca, dapat membantu menekan dampak karhutla serta mengurangi kabut asap yang menyelimuti wilayah Jambi.
Di tengah berbagai kendala tersebut, penanganan karhutla terus menjadi perhatian pemerintah daerah bersama Satgas. Selain mengendalikan sumber kebakaran, perubahan kondisi cuaca dan arah angin juga menjadi faktor penting yang menentukan perkembangan situasi kabut asap di Provinsi Jambi.(*)



