Kabarina – Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) mulai membuka kartu besar di balik transformasinya dari Universitas Islam 45 (Unisma). Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nama, tetapi menjadi momentum untuk membangun wajah baru perguruan tinggi yang lebih dekat dengan masyarakat, dunia industri, pemerintah daerah, hingga ekosistem olahraga di Bekasi.

Semangat baru itu terlihat dalam gelaran Sport and Health Festival yang berlangsung Minggu (6/9/2026). Selain menyambut Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026, kegiatan tersebut menjadi panggung UM Indonesia untuk memperkenalkan identitas barunya kepada masyarakat sekaligus menunjukkan peran kampus dalam pengembangan sumber daya manusia.

Wakil Rektor II UM Indonesia, Latipun, Ph.D., mengatakan festival tersebut sengaja digelar bukan hanya sebagai kegiatan olahraga, tetapi juga sebagai sarana membangun kedekatan antara kampus dan masyarakat.

“Rasa syukur pada pagi hari ini kami menyelenggarakan Sport and Health Festival. Pertama, dalam rangka mengenalkan UM Indonesia kepada masyarakat sekitar. Kedua, ini dalam rangka mengaitkan dengan Hari Olahraga Nasional yang mestinya tanggal 9 September,” ujar Latipun, Minggu (6/9/2026).

Menurut Latipun, sejak Juni 2026 Unisma secara resmi bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia. Proses perubahan tersebut sebelumnya telah memperoleh surat keputusan dan kini mulai diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.

Ia menilai penyampaian informasi melalui media saja belum cukup. Karena itu, kampus memilih menghadirkan kegiatan yang memungkinkan masyarakat berinteraksi langsung dengan civitas akademika.

“Informasi terus disampaikan melalui media online, tentu itu belum cukup. Ini adalah salah satu media untuk mendekatkan hubungan kampus dengan masyarakat,” katanya.

Pemilihan olahraga sebagai salah satu kendaraan utama pengenalan UM Indonesia bukan tanpa alasan. Olahraga disebut telah menjadi salah satu kekuatan kampus sejak masih bernama Unisma.

“Bidang olahraga memang sudah menjadi keunggulan kami sejak zaman Unisma. Selain itu, olahraga adalah aktivitas yang paling mudah dan populer di seluruh lapisan masyarakat,” jelas Latipun.

Bagi UM Indonesia, olahraga tidak berhenti pada persoalan kesehatan. Sektor tersebut juga memiliki irisan kuat dengan pendidikan, ekonomi, pariwisata hingga pengembangan sumber daya manusia.

Dalam Sport and Health Festival, UM Indonesia menggandeng KONI serta melibatkan 12 cabang olahraga. Kolaborasi itu sekaligus mempertegas keinginan kampus untuk mengambil posisi dalam ekosistem olahraga di Bekasi.

Transformasi UM Indonesia juga membawa perubahan pada arah pengembangan pendidikan. Kampus ingin memastikan pendidikan tinggi tidak berhenti pada perolehan gelar, tetapi memiliki keterhubungan yang kuat dengan kebutuhan dunia kerja.

Latipun menegaskan, nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan tetap menjadi fondasi. Namun, kurikulum pendidikan juga diarahkan agar semakin relevan dengan perkembangan kawasan industri Bekasi.

“UM Indonesia tetap memperkuat visi keislaman dan kemuhammadiyahan, serta mengaitkan kurikulum dengan kebutuhan kawasan industri,” ungkapnya.

Dari arah tersebut lahirlah tagline “Kuliah Dekat, Karir Cepat.”

Tagline itu menjadi gambaran strategi UM Indonesia dalam membangun pendidikan yang dekat secara geografis sekaligus dekat dengan kebutuhan industri. Mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga kompetensi yang relevan dengan dunia kerja.

UM Indonesia juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan Pemerintah Kota Bekasi dan Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Kampus tengah mendorong berbagai program peningkatan kompetensi sumber daya manusia yang tidak hanya menyasar mahasiswa, tetapi juga aparatur pemerintah maupun masyarakat umum.

Pelatihan soft skill, hard skill hingga persiapan tenaga kerja untuk menembus pasar kerja luar negeri menjadi bagian dari program yang tengah disiapkan.

“Program pelatihan soft skill, hard skill, hingga persiapan SDM ke luar negeri tengah dirancang sebagai bentuk kontribusi nyata kampus,” kata Latipun.

Dari sisi akses pendidikan, UM Indonesia juga menawarkan skema pembayaran yang lebih fleksibel bagi calon mahasiswa.

Calon mahasiswa dapat melakukan registrasi dan memulai perkuliahan, sementara pembayaran biaya pendidikan dapat dilakukan secara bertahap hingga pertengahan atau akhir semester.

“Kami menerapkan sistem pembayaran yang sangat fleksibel dan terjangkau,” ujar Latipun.

Untuk pengembangan program studi baru, pihak kampus masih menyelesaikan proses migrasi data. Setelah proses tersebut rampung, UM Indonesia berencana mengajukan sejumlah program studi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Pengembangan tersebut mencakup bidang bisnis dan pendidikan, mulai jenjang S1, S2 hingga S3.

Sementara itu, Ketua Panitia Sport and Health Festival, Bujang, mengungkapkan bahwa penguatan sektor olahraga di UM Indonesia memiliki kaitan langsung dengan ambisi Bekasi menuju Sport City 2030.

Menurutnya, keberadaan Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) serta program S2 Pendidikan Jasmani menjadi modal penting bagi kampus untuk ikut mengambil bagian dalam agenda tersebut.

“Bekasi menargetkan menjadi Sport City 2030. Dengan prodi PJKR dan S2 Penjas, UM Indonesia berkomitmen mendukung target tersebut,” kata Bujang.

Program S2 Pendidikan Jasmani UM Indonesia sendiri memiliki empat konsentrasi, yakni Pendidikan Jasmani, Anatomi dan Psikologi, Biomekanika, serta Coaching Science.

Konsentrasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia di sektor olahraga, termasuk meningkatkan kualitas pelatih dan tenaga profesional olahraga di daerah.

Dengan demikian, kampus tidak hanya ditargetkan menghasilkan lulusan akademik, tetapi juga dapat menjadi bagian dari rantai pembinaan atlet dan pengembangan olahraga prestasi di Bekasi.

Menghadapi penerimaan mahasiswa baru, UM Indonesia juga terus berbenah dari sisi sarana dan prasarana pendidikan.

Peningkatan fasilitas belajar, kelengkapan laboratorium hingga pembangunan smart classroom menjadi sejumlah prioritas kampus.

Fasilitas tersebut disiapkan untuk mendukung sistem pembelajaran modern, termasuk metode pembelajaran hybrid dan online.

“Kami terus membenahi fasilitas belajar, kelengkapan laboratorium, serta memprioritaskan pembangunan smart classroom untuk mendukung metode pembelajaran kombinasi (hybrid/online),” ujar Latipun.

Di saat yang sama, kurikulum terus diselaraskan dengan kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis.

Transformasi dari Unisma menjadi UM Indonesia pun ingin ditegaskan bukan sebatas perubahan nama pada papan kampus.

Lebih jauh, perubahan tersebut diarahkan untuk membangun identitas baru: sebuah perguruan tinggi yang dekat dengan masyarakat, terkoneksi dengan industri, aktif mengembangkan olahraga, serta ikut mencetak sumber daya manusia unggul bagi Bekasi.

Dengan mengusung semangat “Kuliah Dekat, Karir Cepat”, UM Indonesia kini mulai menegaskan ambisinya mengambil peran lebih besar di tengah pertumbuhan Kota dan Kabupaten Bekasi baik di ruang pendidikan, industri maupun olahraga menuju Sport City 2030.(Septian)